LATIHAN KEPEKAAN DRIA NON-VISUAL

BAGI ANAK TUNANETRA BUTA

Oleh

Sari Rudiyati 5)

 

Abstrak

Kehilangan fungsi penglihatan bagi seseorang memang sangatlah berat, karena menurut para ahli diperkirakan bahwa yang bersangkutan akan kehilangan kurang lebih 85% informasi yang dapat ditangkap oleh dria penglihatan (Sasraningrat: 1984). Sebagai kompensasinya maka para penyandang tunanetra buta akan berusaha menggunakan dria non-visual yang masih berfungsi seperti dria pendengaran. Dria taktual, dria pembau, dria pencecap, dria kinestetik dan dria keseimbangan untuk memperoleh informasi tentang dunia sekitarnya.

Kepekaan dria-dria non-visual ternyata perlu dilatih untuk menangkap informasi-informasi penting secara tepat, sehingga kerugian akibat hilangnya fungsi penglihatan masih dapat dikompensasikan dengan dria-dria non-visual yang masih berfungsi. Latihan tersebut bertujuan agar anak-anak tunanetra bersangkutan mempunyai kepekaan dalam menangkap informasi-informasi penting secara cepat, sehingga mampu mengkompensasikan keterbatasan dan atau ketidakmampuan visualnya. Namun demikian apakah anak-anak tunanetra, terutama yang buta telah mendapat latihan kepekaan dria non visual secara kontinyu? Fenomena menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak anak tuananetra buta yang belum mendapat latihan kepekaan dria-dria non-visual, dan diduga hal ini akan berpengaruh terhadap kemampuan orientasi mobilitas mereka.

 

Kata-kata Kunci : Dria non-visual, anak tunanetra buta

 

Pendahuluan

Penyandang tunanetra mempunyai keterbatasan dasar. Berdasarkan pendapat Lewenfeld dalam School (1986. p. 315) : Blindness imposes three basic limitation on individual : (1) In the range and variety of concept: (2) In the ability to get abaut; (3) In the control of the environment and the self in relation to it.

Dengan demikian kebutaan dapat mengakibatkan  seseorang mempunyai keterbatasan dasar : (1) Dalam tingkat dan variasi konsep (2) Dalam kemampuan menemukan sesuatu (3) Dalam mengontrol lingkungan dan hubungan dirinya dengan hal itu.

 

————————————-

5) Dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa FIP UNY

 

Oleh karena itu seorang tunanentra membutuhkan latihan kepekaan dria non-visual, agar yang  bersangkutan mempunyai kepekaan dalam menangkap informas-informasi penting secara tepat, sehingga mampu mengkompensasikan keterbatasan dan ketidakmampuan visual yang dimilikinya sehingga dampak ketunanetraan yang disandangnya.

Dria-dria manusia ternyata merupakan saluran ataupun kabel-kabel komunikasi. Secara eksternal dria-dria tersebut menyampaikan berbagai macam tentang dunia luar; dan secara eksternal menyampaikan informasi tentang kondisi dan operasi dari tubuh. Seluruh informasi dari berbagai sumber tersebut mengalir ke beberapa stasiun sentral intelegensi yang terletak pada pusat korteks dari otak manusia, yang digunakan untuk  menghubungkan dalam berpikir dan bertindak. Dari beberapa saluran komunikasu, dria penglihatan mampu menerima dan meneruskan secara cepat sejumlah informasi pada suatu saat.

Saluran komunikasi lain jauh lebih selektif dan kurang mampu membawa semua informasi penting tersebut, pada suatu saat. Jadi dria penglihatan dapat menyampaikan jauh lebih besar jumlah informasi yang diterima oleh semua dria. Terutama dalam situasi baru.

Kehilangan fungsi penglihatan bagi seseorang memang sangatlah berat, karena menurut para ahli diperkirakan bahwa yang bersangkutan akan kehilangan kurang lebih 85% informasi yang dapat ditangkap oleh dria penglihatan (Sasraningrat: 1984). Sebagai kompensasinya maka para penyandang tunanetra buta akan berusaha menggunakan dria non-visual yang masih berfungsi seperti dria pendengaran. Dria taktual, dria pembau, dria pencecap, dria kinestetik dan dria keseimbangan untuk memperoleh informasi tentang dunia sekitarnya.

Kesalahan konsep yang biasa terjadi pada warga masyarakat tentang penyandang  tunanetra, yaitu mereka menganggap bahwa para penyandang tunanetra mempunyai pendengaran dan perabaan yang lebih tajam dibandingkan dengan orang awas; atau sebaliknya mereka mempunyai anggapan bahwa kebuataan menjadikan semua dria non-visual dari penyandangnya tidak berfungsi lagi. Orang awas sering berpandangan bahwa penyandang tunanetra mempunyai keajaiban dria keenam yang dapat memandu mereka. Hal ini tentu saja tidak benar karena pengembangan kemampuan dria-dria non-visual bukan hal yang otomatis diperoleh oleh seorang penyandang tunanetra, tetapi memerlukan latihan dan atau belajar yag serius.

Kepekaan dria-dria non-visual ternyata perlu dilatih untuk menangkap informasi-informasi penting secara cepat, sehinggak kerugian akibat hilangnya fungsi penglihatan masih dapat dikompensasikan sengan dria-dria non-visual yang masih berfungsi. Namun demikian apakah anak-anak tunanetra, terutama yang buta telah mendapat latihan kepekaan dria nin-visual secara kontinyu? Fenomena menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak anak-anak tunanetra buta yang belum mendapat lathan kepekaan dria-dria non-visual, dan diduga hal ini akan berengaruh terhadap kemampuan orientasi mobilitas mereka. Berikut ini adalah contoh-contoh latihan mengembangkan kepekaan dria-dria non-visual yang seterusnya dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan dan kondisi lingkungan anak tunanetra.

Anak tunanetra Buta

Dalam penggunaan sehari-hari, kata tunanetra kadang-kadang disamakan dengan kata buta; padahal tidak demikianlah halnya, sebab buta merupakan suatu tingkatan dimana mata atau dria penglihatan sudah tidak berfungsi secara efektif.

  1. Menurut Frans. Harsana Sasraningrat(1981 , 169)

“Tunanetra ialah suatu kondisi dari dria penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi itu disebabkan oleh karena kerusakan pada mata, syaraf optik dan atau bagian yang mengolah stimulus visual”.

  1. 2.    Menurut A Zahl (1962,15) di dalam bukunya “Blindness” .

“a person shall be considered blind who has a visual! Acuity of 20/200 or less in the better eye with proper corection. On limitation in the field of vsiom such that the widest diameter of the visual field subtends an angular distance no greater than twenty degrees.”

Dengan demikian berarti bahwa seseorang dinyatakan buta apabila memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata yang lebih baik setelah dikoreksi dengan tepat, atau keterbatasan pada bidang penglihatan sedemikian rupa sehingga diameter dari bidang penglihatan yang paling lebar membentuk sudut tidak lebih dari duapuluh derajat

Berdasarkan beberapa pandangan para ahli tersebut di atas, maka perlu diketengahkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Tunanetra adalah kondisi dria penglihatan yang karena sesuatau hal mengalami luka atau kerusakan baik struktural dan atau fungsional, sehingga tidak berfungsi sebagamana mestinya,
  2. Buta adalah suatu tingkatan dari ketunanetraan, ataupun kondisi ketunanetraan yang memenuhi beragai ketentuan sebagai berikut.

1)      Mata yang lebih baik telah dikoreksi secara optimal.

2)      Ketajaman penglihatan jurang dari 20/200

3)      Diameter terlebar dari bidang penglihatan membentuk sudut duapuluh derajat atau kurang.

  1. Anak Tunanetra Buta

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan anak tunanetra buta adalah anak yang karena sesuatu hal dria penglihatannya mengalami luka atau kerusakkan total, baik struktural dan atau fungsional, sehingga penglihatannya mengalami kondisi tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yang memnuhi ketentuan :

1)      Mata yang lebih baik telah dikoreksi secara optimal

2)      Ketajaman penglihatan kurang 20/200, yang berarti bahwa jika mata yang dites dengan papan Snellen, maka pada jarak 6 meter atau 20 feet yang bersangkutan hanya bisa membaca tulisan pada papan Snellen baris pertama yang seharusnya dapat dibaca oleh mata normal pada jarak 60 meter atau 200 feet.

3)      Diameter terlebar dari bidang penglihatan membentuk sudut duapuluh derajat atau kurang.

Latihan Kepekaan Dria Non-Visual

Tujuan dilakukan latihan kepekaan dria non-visual bagi anak-anak tunanetra buta adalah agar yang  bersangkutan mempunyai kepekaan dalam menangkap informas-informasi penting secara tepat, sehingga mampu mengkompensasikan keterbatasan dan ketidakmampuan visual yang dimilikinya sehingga dampak ketunanetraan yang disandangnya.

  1. 1.    Latihan Dria Pendengaran

Pendengaran sangat penting bagi anak tunanetra karena hanya dria pendengaran yang merupakan dria yang dapat mengindra jarak jauh. Melalui pendengaran suara akan banyak  memberi petunjuk penting. Beberapa suara yang akan sanhat berguna untuk memberikan petunjuk kepada anak tunanetra misalnya seperti suara binantang, suara kendaraan yang sedang bergerak, suara percikan air, suara ketawa anak pada waktu bermain, suara klakson mobil, suara adzan dari masjid, dan lain sebagainya. Anak-anak tunanetra harus dapat membedakan suara-suara tersebut. Oleh karena itu mereka harus belajar dan atau berlatih bagaimana mengidentifikasi suara-suara tersebut sebagai petunjuk, menentukan petunjuk datang dari mana, dan dapat memanfaatkan agar suara-suara tersebut dapat membantunya dalam memperoleh informasi tentang lingkungan. Misalnya anak tunanetra berjalan menuju rumah seorang temannya tersebut yang berada dekat sebuah masjid. Pada waktu hendak menuju rumah temannya tersebut yang bersangkutan mendengar suara adzan dari masjida dekta rumah temannya tersebut. Anak tunanetra bersangkutan berjalan semkain mendekati suara adzan tersebut. Suara adzan itu dapat dijadikan sebagai petunjuk di dalam mencari  rumah temannya yang juga semakin dekat; maka yakinlah anak tunanetra dimaksud bahwa telah sampai di rumah yang sedang dituju. Anak-anak tunanetra kebanyakkan menggunakan dria pendengaran lebih dari dria-dria yang lain. Oleh karena itu mereka harus mempunyai kemampuan untuk :

  1. Menyadari adanya suara. Misalnya saya mendengar sesuatu!
  2. Dapat mengidentifikasi dan membedakan dia antara suara-suara yang berbeda-beda (suara apa itu)
  3. Melokalisasi suara (Dari mana sumber datangnya suara)

Oleh karena itu perlu adanya kegiatan latihan untuk meningkatkan kepekaan dria pendengaran anak-anak tunanetra antara lain dengan :

1)        Berjalan mengelilingi ruangan yang dapat membuat suara secara alami. Misalnya mengetuk pintu, membuka dan menutup pintu, menggebrak meja, menjatuhkan buku atau kunci, dan lain sebagaianya. Anak tunanetra diminta menunjuk sumber suara dan mengidentifikasi suara dimaksud.

2)        Melambungkan bola yang bersuara, kemudian anak tunanetra diminta untuk menghitung jumlah lambungan bola tersebut.

3)        Anak tunanetra diminta untuk mengikuti sumber suara. Misalnya mulai dari tepukkan tangan, benturan benda atau tongkat, dan sebagainya.

4)        Anak tunanetra diminta untuk menunjuk salah satu petunjuk suara dan mengidentifikasikan.

5)        Ada beberapa suara, mintalah pada anak tunanetra untuk menunjuk salah satu petunjuk suara dan mengidentifikasikan.

6)        Penyandang tunanetra diminta mengidentifikasikan perbedaan suara orang yang ada dir umah dari suara yang dibuat dengan jalan berkeliling.

7)        Anak tunanetra diminta untuk mengidentifikasi perbedaan suara dari beberapa binatang.

8)        Pada waktu mengisi air ke dalam gelas, anak tunanetra diminta memperhatikan kapan air berhenti dituang.

9)        Anak tunanetra diminta mengidentifikasi langkah seseorang, kendaran berkelok, dan lain sebagainya.

10)    Anak tunanetra diminta mendengarkan kesibukan lalulintas dan diminta untuk mengidentifikasi perbedaan jenis kendaraan. Misalnya  mobil, sepeda motor, truk, bis dan lain sebagainya.

11)     Anak tunanetra diminta mengidetifikasi sesuatu yang melewati rumahnya berdasarkan suara yang dibunyikan. Misalnya, tukang bakso, penjual rujak, penjual sate, penjual roti dan lain sebagainya.

Kegiatan latihan tersebut di atas dapat dikembangkan sampai anak tunnaetra memiliki kepekaan dria pendengar, sehingga mampu mendeteksi suara-suara yang  ada di sekitarnya. Hal-hal yang perlu diingat dalam melatih dria pendengaran anak tunanetra adalah sebagai berikut : mulailah pada tempat yang sepi, kemudian pindah ke tempat yang lebih ramai; pada awal latihan dimulai anak diminta berdiri, kemudian sambil berjalan anak diminta untuk mengidetifikasi suara-suara yang ada di sekitar lingkungan yang dilalui; pada awal latihan menggunakan suara yang menetap, kemudian baru dilanjutkan dengan suara yang bergerak/berpindah; Pada saat mulai latihan menggunakan suara-suara yang berkelanjutan, kemudian mendengarkan suara-suara yang sebentar-sebentar berhenti. (Horton, 1986 : 43)

 

  1. 2.    Latihan Dria Taktual

Petunjuk taktual juga sangat bermanfaat bagi anak-anak tunanetra. Petunjuk taktual tidak hanya diperoleh melalui ujung-ujung jari dan telapak tangan saja, melainkan juga akan diperoleh petunjuk taktual melalui telapak kaki. Anak-anak tunanetra akan dengan mudah merasakn apabila mereka mengikuti lorong atau emnginjakan kaki dengan menerima infromasi taktual yang berbeda. Misalnya melalui kaki telanjang, lorong yang kotor dan berbatuan akan dirasakan sangat berbeda dengan tanah yang berumput oleh anak-anak tunanetra.

Setekah dria taktual dilatih, anak-anak tunanetra akan mampu membedakan antara teksta dan temperatur, misalnya kasar halus, keras luak, panas dingin, kering basah dan lain sebagainya; mampu membedakan bahan/material yang berbeda. Misalnya sutera, katun, wool; mampu membedakan bentuk, berat dan ukuran benda. Misalnya persegi empat, bulat bulat panjang, segitiga, berat ringan, besar dan kecil

Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kepekaan dria taktual antara lain adalah :

  1. Mengancingkan baju, membuka dan menutup resleting, dan membandingkan berbagai bentuk objek, mislanya persegi empat, bulat panjang, segitiga
  2. Belajar mengunci dan membuka gembok
  3. Menalikan sepatu, dan baju yang berlubang dan bertali\
  4. Menggunting dan menempel kertas atau kain dengan lem
  5. Membuat kerajinan tangan seperti menganyam, menyongket, dan merenda
  6. Menyortir/memilahkan objek yang berebeda-beda teksturnya
  7. Meronce buji-bijian
  8. Membuka dan menutup botol, kaleng dan lain sebagainya.
  9. Meraba berbagai bentuk, ukuran dan berat suatu objek yang berbeda-beda bahannya.

Kegiatan latihan tersebut diatas dapat dikembangkan lebih lanjut, sehingga anak-anak tunanetra bersangkutan mempunyai kepekaan dria taktual. Kegiatan latihan tersebut hendaknya dapat menarik dan menyenangkan, sehingga anak-anak tunanetra suka untuk melakukannya, dan dengan demikian dapat meningkatkan keefektifan dan kepekaan dria taktual.

 

  1. 3.    Latihan Dria Pembau

Dria pembau juga dapat menyediakan informasi yang berguna dan dapat membantu anak-anak tunanetra dalam memperoleh informasi tentang lingkungan sekitarnya. Sebab dria pembau membantu seseorang tidak hanya pada waktu yang bersangkutan ingin melakukan sesuatu tetapi juga pada waktu harus menghindari sesuatu. Oleh karena itu anak-anak tunanetra dituntut untuk mempunyai kemampuan sebagai berikut : kesadaran membau, Misalnya, saya bau sesuatu!: Mengidentifikasi dan membedakan berbagai bau.(Bau apa ini?). dan dapat menunjuk lokasi sumber berbagai bau.  (Dari mana sumbernya bau ini?)

Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kepekaan dria pembau antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Bawalah anak tunanetra ke dapur, kenalkan berbagai macam bumbu dapur, kemudian yang bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membedakan berbagai macam bumbu tersebut
  2. Kenalkan anak tunanetra dengan berbagai bau yang ada di rumahtangga. Misalnya minyak wangi, obat gosok, obat-obatan, sabun, pasta gigu, bedak, dan cat; kemudian yang bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membedakan berbagai macam bau dari barang-barang tersebut.
  3. Ajaklah annak-anak tunanetra belanja ke pasar dan kenalkan berbagai bau yang dijumpai, seperti bau buah-buahan, sayuran dan bumbu-bumbu. Sampai di rumah yang bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membedakan barang-barang yang sudah diebli di pasar tadi.
  4. Ajaklah anak tunanetra ke kebun bunga atau kebun buah yang ada di sekitar sekolah. Kenalkan anak-anak tunanetra dengan berbagai bau bunga dan atau buah-buahan yang ada. Setelah itu tanyalah nama berbagai bunga dan buah yang ada di tempat tersebut.
  5. Suatu saat ajaklah anak-anak jalan-jalan le pusat kota, seperti Malioboro di Yogyakarta. Sepanjang jalan Malioboro banyak bau seperti bau berbagai masakan, bau berbagai parfum, bau berbagai obat-\obatan, bau busuk bercampuraduk. Coba anak-anak tunanetra yang bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membeda-bedakan berbagai bau yang tercium di sepanjang jalan Malioboro tersebut satu persatu.

Kegiatan-kegiatan tersebut dapat diperluas, sehingga berkembanglah kepekaan dria pembau dari  anak-anak tunanetra yang bersangkutan.

 

  1. 4.    Latihan Dria Pencecap

Dria pencecap juga dapat menyediaka informasi yang berguna dan dapat membantu anak-anak tunanetra dalam memperoleh infromasi tentang lingkungan sekitarnya sebab dria pencecap membantu seseorang tidak hanya pada waktu yang bersangkutan ingin merasakan sesuatu tapi juga pada waktu harus menghindarai sesuatu. Oleh karena itu anak-anak tunanetra dituntut untuk mempunyai kemampuan sebagai berikut : Kesadaran tentang rasa sesuatu : Misalnya, saya merasakan sesuatu 1: Mengidentifikasi dan membedakan berbagai rasa. (Rasa apa ini?): dan dapat membedakan berbagai rasa.(Dari rasa asin, pahit manis, asam, dan pedas)

Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kepekaan dria pencecap antara lain aalah sebagai berikut :

  1. Ajaklah penyandang tunanetra ke dapur kenalkan berbagai macam rasa bumbu dapur, kemudian yang bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membedakan berbagai macam rasa bumbu dapur tersebu. (Misalnya : gula:manis, garam:asin, asam:asem)
  2. Kenalkan pada anak-anak tunanetra berbagai rasa yang ada di rumahtangga. Misalnya; bubur (gurih dan manis), air teh (manis dan pahit), jeruk (asam dan manis; sambal (pedas); kemudian yang bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membedakan berbagai macam rasa dari makanan dan minuman tersebut.
  3. Ajaklah anak tunanetra belanja ke pasar dan kenalkan berbagai rasa yang dijumpai, seperti rasa buah-buahan, sayuran dan bumbu-bumbu. Sampai di rumah yang bersangkutan diminta mengidentifikasi dan membedakan rasa barang-barang belanjaan yang telah dibeli di pasar tadi.
  4. Ajaklah anak-anak tunanetra ke kebun sayur atau ke kebun buah yang ada di sekitar sekolah. Kenalkan anak-anak tunanetra dengan berbagai rasa sayuran dan  atau buah-buahan yang ada. Setelah itu tanyalah nama berbagai sayuran dan buah-buahan yang ada di tempat tersebut.
  5. Suatu saat ajaklah anak-anak tunanetra jalan-jalan ke temapat-tempat makan, seperti warung makan lesehan dan atau warung kaki lima. Banyak berbagai makanan yang dijual di warung lesehan atau kaki lima seperti nasi gudeg, soto, bakso, somay, gado-gado, sate ayam dan sate kambing. Anak-anak tunanetra bersangkutan diminta untuk mengidentifikasi dan membeda-bedakan berbagai rasa makanan yang ingin dibeli tersebut satu persatu.

Kegiatan tersebut dapat diperluas, sehingga berkembanglah kepekaan dria dari anak-anak tunanetra yang bersangkutan.

  1. Latihan Dria Kinestetik

Menurut Stanley Sutarko dalam Purwanto HK (1987: 40), dria kinestetik dirumuskan sebagai sensitivitas terhadap gerak otot atau sendi. Misalnya jika orang mengangkat tangan setinggi bahu, maka dria kinestetik akan memberitahu tentang posisi tangan orang tersebut. Namun demikian kebanyakkan orang tidak menyadari adanya dria kinestetik, walaupun jika orang mengalami kelainan pada dria ini, maka orang tersebut tidak dapat mengetahui posisi dan gerak tubunya, apabila tidak melihatnya.

Dria kinestetik digunakan oleh anak-anak tunanetra untuk mendeteksi keadaan yang menurun atau menarik, dan berjalan pada permukaan yang miring. Apabila telah dilatih maka anak-anak tunanetra akan mampu mendeteksi keadaan jalan yang menurunatau menanjak walaupun hanya beberapa derajat  saja. Bahkan kadang-kadang perubahan vertikal yang sedikit saja dapat dirasakan oleh anak-anak tunanetra yang mungkin tidak dapat dideteksi oleh orang awas.

Dria kinestetik juga dapat membangun oto atau gerak motorik berulang. Gerakan yang sering diulang dan dalam urutan tertentu dan pasti, dapat menjadi otomatis. Penyandang tunanetra secara otomatis akan hafal jarak tanpa menghitung langkah dalam berjalan dari suatu tempat ke suatu objek tertentu; lebih-lebih pada jarak-jarak yang pendek dalam ruangan.

Guru anak tunanetra harus menyadari tentang perlunya mengajarkan persepsi kinestetik kepada anak tunanetra; dengan demikian anak tunanetra dapat mengetahui bagian badannya berada dimana dalam hubungannya dalam ruang. Hal ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan gerakan yang efisien.

Anak tunanetra perlu secara mantap merasakan sesuatu gerakan tertentu, dan merasakan apakah gerakan tersebut benar atau salah. Dengan demikian perlu adanya latihan kepekaan dria kinestetik. Latihan ini dapat dilakukan dengan aktifitas yang dapat mengembangkan keseimbangan, koordinasi otot, fleksibilitas dan kekuatan otot, serta mencakup pola-poal lokomotorik dasar. Misalnya : berjalan, berlari, melompat, melangkah sambil melompat. Selain itu latihan itu dapat dilakukan dengan cara menirukan gerakan atau jalan dari berbagai binatang. Misalnya menirukan gerak atau jalannya itik, katak, kepitimh, ular.

Kegiatan-kegiatan tersebut dapat diperluas, sehingga berkembanglah kepekaan dria kinestetik daeri anak-anak tunanetra yang bersangkutan.

  1. Latihan Dria Keseimbangan/Vestabula\

Dria keseimbangan atau vestabula akan memberikan informasi kepada anak tunanetra tentang keseimbangan dari posisi tubuh dan gerakan lurus serta memutar dari bagian-bagian tubuhnya. Informasi yang diperoleh melalui dria kesemibangan ini hampir sama dengan yang diterima melalui dria kinestetik. Dria keseimbangan ini mempunyai peranan dalam posisi kaki menapak dan pada waktu seseorang berputar. Misalnya : pada waktu anak tunanetra menapakkan kaki pada permukaan yang miring, menyebabkan sudut dari sendi mata kaki berubah, maka yang bersangkutan akan mendapat informasi dari dria keseimbangan, dan dapat mempertahankan posisi tegaknya sehingga tidak terjatuh. Informasi ini untuk pertama kali diterima oleh dria kinestetik, tetapi dria kinestetik tidak memperhatikan posisi tegaknya anak tunanetra; dan jika dria keseimbangannya juga tidak memperhatikan , maka akan ada kemungkinan anak tunanetra tersebut akan terjatuh karena tidak ada keseimbangan.

Berkat adanya dria keseimbangan, maka jika anak tunanetra bergerak mengahadap ke kanan atau ke kiri yang bersangkutan dapat mengetahui sudah betul atau belum saat berputar atau bergerak menghadap ke kanan atau ke kiri. Kepekaan dria keseimbangan atau vestabula ini dapat dilatih secara kontinyu, misalnya dengan meniti tali dan atau papan baik dalam keadaan lurus maupun miring; dan berjalan di atas  jalan setapak atau pematang sawah.

Kegiatan latihan tersebut dapat diperluas, sehingga berkembanglah kepekaan dria keseimbangan atau vestabula dari anak-anak tunanetra yang bersangkutan.

 

Penutup

Demikianlah beberapa contoh latihan kepekaan dria-dria non-visual yang dapat diberikan oleh guru dan atau pembimbing kepada anak-anak tunanetra. Latihan tersebut bertujuan agar anak-anak tunanetra yang bersangkutan mempunyai kepekaan dalam menangkap informasi-informasi penting secara cepat sehingga mampu mengkompensasikan keterbatasan dan ketidakmampuan visual yang dimilikinya sebagai dampak ketunanetraan yang disandangnya. Oleh karena itu untuk memperoleh tambahan informasi dan pengalaman tentang lingkungan sekitar, maka melalui kepekaan dria-dria non visual tersebut, anak-anak tunanetra dapat meningkatkan kemampuan orientasi dan mobilitasnya, sehingga lebih mandiri dalam kegiatan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Penggunaan dria-dria non-visual tersebut perlu digabungkan antara dria yang satu dengan dria-dria non-visual lainnya. Sebab dengan penggabungan tersebut infiormasi yang didapat oleh anak-anak tunanetra buta akan lebih lengkap.

 

Daftar Pustaka

Baraga, Natalie, C. (1978).  Pengembangan  Penggunaan Sisa Penglihatan. Jakarta : Departemen Pendidikan Kebudayaan dan RI.

Busono, Mardiati. (1988). Pendidikan Anak Kuranglihat. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Hadikasma, Purwanta. (1987). Orientasi dan Mobilitas Tunanetra. Yogyakarta: Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi IKIP Yogyakarta.

Horton, Kirk. (1986). Community-Based Rehabilitation of the Rural Blind. New York: Hellen Keller International Inc.

Irham Hosni. (1955). Orientasi dan Mobilitas. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Guru Dikjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lowenfeld, Berthold. (1979). Anak Tunanetra di Sekolah. Terjemahan Frans. Harsana Sasraningrat. Bandung : BP3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lydon, T. William, dan M. Loretta McGraw. (1973). Pengembangan Konsepsi untuk Anak Buta. New York : American Foundation for the Blind. Inc.

Paul, A. Zahl. (1962). Blindness. New York : Hafner Publishing Company.

Scholl, Geraldine. (1988). Foundation of Education for the Visually Impaired Children and Youth. New York : American Foundation of the Blind.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS REVIEW JURNAL

MATAKULIAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Nama              : Diah Purtisari

NPM    : 11144600092

Kelas               : A3-11

Keunggulan

Menurut pendapat saya keunggulan jurnal ini adalah penulis jurnal memaparkan berbagai macam latihan dria non-visual yang dapat diterapkan kepada anak. Sehingga orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan penglihatan dapat dilatih dengan latihan yang telah disebutkan di jurnal tersebut.

Keterbatasan anak bukan berarti tidak dapat dilatih, orang tua yang memiliki anak dengan keterbatsan penglihatan, tidak boleh hanya menggantungkan harapan pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Keberhasilan pendidikan anak tunanetra tidak hanya ditentukan oleh guru SLB, keberhasilan ini juga bergantung pada keterlibatan orang tua sebagai pendidik di rumah.

 

Kekurangan 

Menurut pendapat saya kekurangan jurnal ini adalah penulis tidak memberikan penjelasan bahwa ibu yang memiliki anak tunanetra di daerah pelosok belum tentu mengerti bahwa anak tunanetra dapat dilatih. Mereka bahkan membiarkan anak mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan, diam dan tidak bisa apa-apa. Memilih untuk tidak disekolahkan lantaran kesulitan ekonomi adalah salah satu faktor orang tua tidak menyekolahkan mereka.Penulis mungkin dapat menambahkan bahwa sosialisasi tentang melatih kepekaan pada anak tunanetra di daerah pelosok sangatlah penting. Sehingga orang tua  di daerah pelosok yang memiliki anak dengan keterbatasan penglihatan dapat melatih anak mereka sendiri.­­­

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s